Rabu, 11 November 2020

MAQOLAH HIKAM Ke-2

 


Kajian Tasawwuf : Kitab HIKAM

Kitab al-Hikam karangan Imam Tajuddin Abu Fadhli Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Athaillah Askandary

HIKMAH Ke-2 ( Ahli Asbab dan Ahli Tajrid ) - ( Syahwah dan Himmah )

إِرَ ادَ تُــكَ الـتَّجْرِ يْدَ مَـعَ إِقَامَـةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ اْلأَسْبَابِ مِنَ الشَّـهْـوَ ةِ الْخَفِـيـَّةِ.
وَ إِرَادَ تُـكَ اْلأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ الـتَّجْرِ يْدِ اِنحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَـلِـيـَّةِ

Artinya :
KEINGINAN KAMU UNTUK BERTAJRID PADAHAL ALLAH MASIH MELETAKKAN KAMU  DALAM SUASANA ASBAB ADALAH SYAHWAT YANG SAMAR, SEBALIKNYA KEINGINAN KAMU UNTUK BERASBAB PADAHAL ALLAH TELAH MELETAKKAN KAMU  DALAM SUASANA TAJRID BERARTI TURUN DARI SEMANGAT DAN TINGKAT YANG TINGGI.


Hikmah 1 menerangkan tanda orang yang bersandar kepada amal. Bergantung kepada amal adalah sifat manusia biasa yang hidup dalam dunia ini.

Dunia ini dinamakan alam asbab. Apabila perjalanan hidup keduniaan dipandang melalui mata ilmu atau mata akal akan dapat disaksikan kerapian susunan sistem sebab musabab yang mempengaruhi segala kejadian.

Tiap sesuatu berlaku menurut sebab yang menyebabkan ia berlaku. Hubungan sebab dengan akibat sangat erat. Mata akal melihat dengan jelas kehebatan sebab dalam menentukan akibat.
Kerapian sistem sebab musabab ini memberikan manusia  mengambil manfaat dari anasir dan kejadian alam.

Manusia dapat menentukan anasir yang  memudaratkan kesehatan lalu menjauhinya dan manusia juga  menentukan anasir yang  menjadi obat lalu menggunakannya.

Manusia  membuat ramalan cuaca, pasang surut air laut, angin, ombak, letusan gunung berapi dan lain-lain karena sistem yang mengawal perjalanan anasir alam berada dalam suasana yang sangat rapi dan sempurna, membentuk hubungan sebab dan akibat yang terpadu.

Allah mengadakan sistem sebab musabab yang rapi adalah untuk kemudahan manusia menyusun kehidupan mereka di dunia ini. Kekuatan akal dan panca indera manusia mampu menjelaskan kehidupan yang dikaitkan dengan perjalanan sebab musabab. Hasil dari pemerhatian dan kajian akal itulah lahir berbagai-bagai jenis ilmu tentang alam dan kehidupan, seperti ilmu sains, astronomi, kedokteran, teknologi maklumat dan sebagainya. Semua jenis ilmu itu dibentuk berdasarkan perjalanan hukum sebab-akibat.
Kerapian sistem sebab musabab menyebabkan manusia terikat kuat dengan hukum sebab-akibat. Manusia bergantung kepada amal (sebab) dalam mendapatkan hasil (akibat). Manusia yang melihat kepada kehebatan sebab dalam menentukan akibat serta bersandar dengannya dinamakan ahli asbab.

Sistem sebab musabab atau perjalanan hukum sebab-akibat sering membuat manusia lupa kepada kekuasaan Allah, Mereka melakukan sesuatu dengan penuh keyakinan bahwa akibat akan lahir dari sebab, seolah-olah Allah tidak ikut campur dalam urusan mereka. Allah tidak suka hamba-Nya ‘mempertuhankan’ sesuatu kekuatan sehingga mereka lupa kepada kekuasaan-Nya. Allah tidak suka jika hamba-Nya sampai kepada tahap mempersekutukan diri-Nya dan kekuasaan-Nya dengan anasir alam  dan hukum sebab-akibat ciptaan-Nya. Dia yang meletakkan kehebatan kepada anasir alam berkuasa membuat anasir alam itu lemah semula.

Dia yang meletakkan kerapian pada hukum sebab-akibat berkuasa merombak hukum tersebut. Dia mengutuskan rasul-rasul dan nabi-nabi membawa mukjizat yang merombak hukum sebab-akibat bagi mengembalikan pandangan manusia kepada-Nya, agar faham sebab musabab tidak menghijab ketuhanan-Nya.

Kelahiran Nabi Isa a.s, terbelahnya laut dipukul oleh tongkat Nabi Musa a.s, kehilangan kuasa membakar yang ada pada api tatkala Nabi Ibrahim a.s masuk ke dalamnya, keluarnya air yang jernih dari jari-jari Nabi Muhammad s.a.w dan banyak lagi yang didatangkan oleh Allah merombak kehebatan hukum sebab-akibat bagi menyadarkan manusia tentang hakikat bahwa kekuasaan Allah yang merajai perjalanan alam maya dan hukum sebab-akibat. Alam dan hukum yang ada padanya seharusnya membuat manusia mengenal Tuhan, bukan menutup pandangan kepada Tuhan. Sebagian dari manusia diselamatkan Allah s.w.t dari faham sebab musabab.

Sebagai manusia yang hidup dalam dunia mereka masih bergerak dalam arus sebab musabab tetapi mereka tidak meletakkan kehebatan hukum kepada sebab. Mereka senantiasa melihat kekuasaan Allah yang menetapkan atau mencabut kehebatan pada sesuatu hukum sebab-akibat. Jika sesuatu sebab berhasil mengeluarkan akibat menurut yang biasa terjadi, mereka melihatnya sebagai kekuasaan Allah yang menetapkan kekuatan kepada sebab tersebut dan Allah juga yang mengeluarkan akibatnya.

Allah swt berfirman:

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

لَهُۥ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ يُحْىِۦ وَيُمِيتُ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Artinya :
Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
(QS. Al Hadid 1-2)

فَقُلْنَا ٱضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا ۚ كَذَٰلِكَ يُحْىِ ٱللَّهُ ٱلْمَوْتَىٰ وَيُرِيكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Artinya :
Lalu Kami berfirman: Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dam memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.
(QS. Al Baqarah 73)

Orang yang melihat kepada kekuasaan Allah s.w.t merajai hukum sebab-akibat tidak  meletakkan kehebatan kepada hukum tersebut. Ketergantungannya kepada Allah, tidak  kepada amal yang menjadi sebab. Orang yang seperti ini dipanggil ahli tajrid.

Ahli tajrid, seperti juga ahli asbab, melakukan sesuatu menurut peraturan sebab-akibat. Ahli tajrid juga makan dan minum Ahli tajrid memanaskan badan dan memasak dengan menggunakan api juga. Ahli tajrid juga melakukan sesuatu pekerjaan yang berhubung dengan rezekinya. Tidak ada perbedaan di antara amal ahli tajrid dengan amal ahli asbab. Perbedaannya terletak di dalam diri yaitu hati. Ahli asbab melihat kepada kekuatan hukum alam. Ahli tajrid melihat kepada kekuasaan Allah s.w.t pada hukum alam itu. Walaupun ahli asbab mengakui kekuasaan Allah tetapi penghayatan dan kekuatannya pada hati tidak sekuat ahli tajrid.

Dalam melakukan kebaikan ahli asbab perlu melakukan mujahadah. Mereka perlu memaksa diri mereka berbuat baik dan perlu menjaga kebaikan itu agar tidak menjadi rusak. 

Ahli asbab perlu memperingatkan dirinya supaya berbuat ikhlas dan perlu melindungi keikhlasannya agar tidak dirusakkan oleh riak (berbuat baik untuk diperlihatkan kepada orang lain agar dia dikatakan orang baik), takabur (sombong dan membesar diri, merasakan diri sendiri lebih baik, lebih tinggi, lebih kuat dan lebih cerdik dari orang lain) dan sama’ah (membawa perhatian orang lain kepada kebaikan yang telah dibuatnya dengan cara bercerita mengenainya, agar orang mengakui bahwa dia adalah orang baik). 

Jadi...., ahli asbab perlu memelihara kebaikan sebelum melakukannya dan juga selepas melakukannya. Suasana hati ahli tajrid berbeda dari apa yang dialami oleh ahli asbab. 

Jika ahli asbab memperingatkan dirinya supaya ikhlas, ahli tajrid tidak melihat kepada ikhlas karena mereka tidak bersandar kepada amal kebaikan yang mereka lakukan. Apa juga kebaikan yang keluar dari mereka diserahkan kepada Allah yang mengaruniakan kebaikan tersebut. 

Ahli tajrid tidak perlu menentukan perbuatannya ikhlas atau tidak ikhlas. Melihat keihklasan pada perbuatan sama dengan melihat diri sendiri yang ikhlas. Apabila seseorang merasakan dirinya sudah ikhlas, padanya masih tersembunyi keegoan diri yang membawa kepada riak, ujub (merasakan diri sendiri sudah baik) dan sama’ah. 

Apabila tangan kanan berbuat ikhlas dalam keadaan tangan kiri tidak menyadari perbuatan itu barulah tangan kanan itu benar-benar ikhlas. Orang yang ikhlas berbuat kebaikan dengan melupakan kebaikan itu. Ikhlas sama seperti harta benda. Jika seorang miskin diberi harta oleh jutawan, orang miskin itu malu menepuk dada kepada jutawan itu dengan mengatakan yang dia sudah kaya. 

Orang tajrid yang diberi ikhlas oleh Allah  mengembalikan kebaikan mereka kepada Allah. Jika harta orang miskin itu hak si jutawan tadi, ikhlas orang tajrid adalah hak Allah. 

Jadi..., orang asbab bergembira karena melakukan perbuatan dengan  ikhlas, orang tajrid pula melihat Allah yang mentadbir sekalian urusan. 

(Ahli asbab dibawa kepada syukur, ahli tajrid berada dalam penyerahan.)

Kebaikan yang dilakukan oleh ahli asbab merupakan teguran agar mereka ingat kepada Allah yang memimpin mereka kepada kebaikan. 

Kebaikan yang dilakukan oleh ahli tajrid merupakan karunia Allah kepada kumpulan manusia yang tidak memandang kepada diri mereka dan kepentingannya. 

Ahli asbab melihat kepada kehebatan hukum sebab-akibat. Ahli tajrid pula melihat kepada kehebatan kekuasaan dan ketentuan Allah. Dari kalangan ahli tajrid, Allah s.w.t memilih sebagiannya dan meletakkan kekuatan hukum pada mereka. 

Kumpulan ini bukan sekadar tidak melihat kepada kehebatan hukum sebab-akibat, malah mereka berkekuatan menguasai hukum sebab-akibat itu. Mereka adalah nabi-nabi dan wali-wali pilihan. Nabi-nabi dianugerahkan mukjizat dan wali-wali dianugerahkan kekaromahan. Mukjizat dan kekaromahan merombak kehebatan hukum sebab-akibat.

Di dalam kumpulan wali-wali pilihan yang dikaruniakan kekuatan mengawal hukum sebab-akibat itu terdapatlah orang-orang seperti Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, Abu Hasan as-Sazili, Rabiatul Adawiah, Ibrahim Adham dan lain-lain. 

Cerita tentang kekaromahan mereka sering diperdengarkan. Orang yang cenderung kepada Thoriqoh  tassawuf  gemar menjadikan kehidupan aulia Allah tersebut sebagai contoh, dan yang mudah memikat perhatian adalah bagian kekaromahan. 

Kekaromahan biasanya dikaitkan dengan perilaku kehidupan yang zuhud dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah . Timbul anggapan bahwa jika mau memperoleh kekaromahan seperti mereka mestilah hidup sebagaimana mereka. 

Orang yang berada pada peringkat permulaan berThoriqoh cenderung untuk memilih jalan bertajrid yaitu membuang segala ikhtiar dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah. Sikap melulu bertajrid membuat seseorang meninggalkan pekerjaan, isteri, anak-anak, masyarakat dan dunia seluruhnya. Semua harta disedekahkan karena dia melihat Sayidina Abu Bakar as-Siddik telah berbuat demikian. 

Ibrahim bin Adham telah meninggalkan takhta kerajaan, isteri, anak, rakyat dan negerinya lalu tinggal di dalam gua. Biasanya orang yang bartindak demikian tidak dapat bertahan lama. Kesudahannya dia mungkin meninggalkan kumpulan Thoriqohnya dan kembali kepada kehidupan duniawi. Ada juga yang kembali kepada kehidupan yang lebih buruk dari keadaannya sebelum berThoriqoh  dahulu karena dia mau menebus kembali apa yang telah ditinggalkannya dahulu untuk berThoriqoh. 

Keadaan yang demikian berlaku akibat bertajrid secara melulu. Orang yang baru masuk ke dalam bidang latihan kerohanian sudah mau beramal seperti aulia Allah yang sudah berpuluh-puluh tahun melatihkan diri. 

Tindakan meninggalkan semua yang dimilikinya secara tergesa-gesa membuatnya berhadapan dengan bayangan dan dugaan yang  menggoncangkan imannya dan mungkin juga membuatnya berputus-asa. Apa yang harus dilakukan bukanlah meniru kehidupan aulia Allah yang telah mencapai maqom yang tinggi secara melulu. Seseorang haruslah melihat kepada dirinya dan mengenal pasti kedudukannya, kemampuanya dan daya-tahannya. 

Ketika masih di dalam maqom asbab seseorang haruslah bartindak sesuai dengan hukum sebab-akibat. Dia harus bekerja untuk mendapatkan rezekinya dan harus pula berusaha menjauhkan dirinya dari bahaya atau kemusnahan.

Ahli asbab perlu berbuat demikian karena dia masih lagi terikat dengan sifat-sifat kemanusiaan. Dia masih lagi melihat bahwa tindakan makhluk berdampak kepada dirinya. Oleh yang demikian adalah wajar sekiranya dia mengadakan juga tindakan yang menurut pandangannya akan mendatangkan kesejahteraan kepada dirinya dan orang lain. 

Tanda Allah meletakkan seseorang pada kedudukan sebagai ahli asbab ialah apabila urusannya dan tindakannya yang menurut kesesuaian hukum sebab-akibat tidak menyebabkannya mengabaikan kewajiban terhadap tuntutan agama. Dia tetap merasa rengan untuk berbakti kepada Allah, tidak gelojoh dengan nikmat duniawi dan tidak merasa iri hati terhadap orang lain. Apabila ahli asbab berjalan menurut hukum asbab maka jiwanya akan maju dan berkembang dengan baik tanpa menghadapi kegoncangan yang besar yang menyebabkan dia berputus asa dari rahmat Allah. Rohaninya akan menjadi kuat sedikit demi sedikit dan menolaknya ke dalam maqom tajrid secara selamat. Akhirnya dia mampu untuk bertajrid sepenuhnya.

Ada pula orang yang dipaksa oleh takdir supaya bertajrid. Orang ini asalnya adalah ahli asbab yang berjalan menurut hukum sebab-akibat sebagaimana orang banyak. 

Kemungkinannya kehidupan seperti itu tidak menambahkan kematangan rohaninya. Perubahan jalan perlu baginya supaya dia maju dalam bidang kerohanian. 

Oleh itu takdir bartindak memaksanya untuk terjun ke dalam lautan tajrid. Dia akan mengalami keadaan di mana hukum sebab-akibat tidak lagi membantunya untuk menyelesaikan masalahnya. Sekiranya dia seorang raja, takdir  mencabut kerajaannya. Sekiranya dia seorang hartawan, takdir  menghapuskan hartanya. 

Sekiranya dia seorang yang cantik, takdir  menghilangkan kecantikannya itu. Takdir memisahkannya dari apa yang dimiliki dan dikasihinya. Pada peringkat permulaan menerima kedatangan takdir yang demikian, sebagai ahli asbab, dia berikhtiar menurut hukum sebab-akibat untuk mempertahankan apa yang dimiliki dan dikasihinya. 

Jika dia tidak berdaya untuk menolong dirinya dia akan meminta pertolongan orang lain. Setelah puas dia berikhtiar termasuk bantuan orang lain namun, tangan takdir tetap juga merombak sistem  sebab-akibat yang terjadi ke atas dirinya. 

Apabila dia sendiri dengan dibantu oleh orang lain tidak mampu mengatasi arus takdir maka dia tidak ada pilihan kecuali berserah kepada takdir. Dalam keadaan begitu dia akan lari kepada Allah dan merayu agar Allah s.w.t menolongnya. 

Pada peringkat ini seseorang itu akan kuat beribadah dan menumpukan sepenuh hatinya kepada Tuhan. Dia benar-benar berharap Tuhan akan menolongnya mengembalikan apa yang pernah dimilikinya dan dikasihinya. Tetapi, pertolongan tidak juga sampai kepadanya sehinggalah dia benar-benar terpisah dari apa yang dimiliki dan dikasihinya itu. 

Luputlah harapannya untuk memperolehnya kembali. Ridholah dia dengan perpisahan itu. Dia tidak lagi merayu kepada Tuhan sebaliknya dia menyerahkan segala urusannya kepada Tuhan. Dia menyerah bulat-bulat kepada Allah, tidak ada lagi ikhtiar, pilihan dan kehendak diri sendiri. Jadilah dia seorang hamba Allah yang bertajrid. Apabila seseorang hamba benar-benar bertajrid maka Allah s.w.t sendiri akan mengurusi kehidupannya. 

Allah swt berfirman (QS. Al Ankabut 60) :

وَكَأَيِّن مِّن دَآبَّةٍ لَّا تَحْمِلُ رِزْقَهَا ٱللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

Artinya :
Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Ankabut 60)

Makhluk Allah seperti burung, ikan, kuman dan sebagainya tidak memiliki tempat simpanan makanan. Mereka adalah ahli tajrid yang dijamin rezeki mereka oleh Allah. Jaminan Allah itu meliputi juga bangsa manusia. 

Tanda Allah meletakkan seseorang hamba-Nya di dalam maqom tajrid ialah Allah memudahkan baginya rezeki yang datang dari arah yang tidak diduganya. Jiwanya tetap  tentram sekalipun terjadi kekurangan pada rezeki atau ketika menerima bala’ ujian.

Sekiranya ahli tajrid sengaja memindahkan dirinya kepada maqom asbab maka ini berarti dia melepaskan jaminan Allah lalu bersandar kepada makhluk. 

Ini menunjukkan akan kejahilannya tentang rahmat dan kekuasaan Allah. Tindakan yang jahil itu menyebabkan berkurangan atau hilang terus keberkahan yang Allah karuniakan kepadanya. 

Seorang ahli tajrid yang tidak mempunyai sembarang pekerjaan kecuali membimbing orang banyak kepada jalan Allah, walaupun tidak mempunyai sembarang pekerjaan namun, rezeki datang kepadanya dari berbagai-bagai arah dan tidak pernah putus tanpa dia meminta-minta atau mengharap-harap. 

Pengajaran yang disampaikan kepada murid-muridnya sangat berdampak sekali. Keberkahannya amat kentara seperti makbul doa dan ucapannya biasanya menjadi kenyataan. Andainya dia meninggalkan suasana bertajrid lalu berasbab karena tidak puas hati dengan rezeki yang diterimanya maka keberkahannya akan terbuang. Pengajarannya, doanya dan ucapannya tidak seberdampak dahulu lagi. Ilham yang datang kepadanya tersekat-sekat dan kefasihan lidahnya tidak selancar biasa.

Seseorang hamba haruslah menerima dan ridho dengan kedudukan yang Allah karuniakan kepadanya. Berserahlah kepada Allah dengan yakin bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Allah tahu apa yang patut bagi setiap makhluk-Nya. Allah sangat bijak mengatur urusan hamba-hamba-Nya.

Keinginan kepada pertukaran maqom merupakan tipu daya yang sangat halus. Di dalamnya tersembunyi rangsangan nafsu yang sukar disadari. 

Nafsu di sini merangkum kehendak, cita-cita dan angan-angan. Orang yang baru terbuka pintu hatinya setelah lama hidup di dalam kelalaian, akan mudah tergerak untuk meninggalkan suasana asbab dan masuk ke dalam suasana tajrid. 

Orang yang telah lama berada dalam suasana tajrid, apabila kesadaran dirinya kembali sepenuhnya, ikut kembali kepadanya adalah keinginan, cita-cita dan angan-angan. 

Nafsu mencoba untuk bangkit menguasai dirinya. Orang asbab perlulah menyadari bahwa keinginannya untuk berpindah kepada maqom tajrid itu mungkin secara halus digerakkan oleh ego diri yang tertanam jauh dalam jiwanya. 

Orang tajrid pula perlu sadar keinginannya untuk kembali kepada asbab itu mungkin didorong oleh nafsu rendah yang masih belum berpisah dari hatinya. 

Ulama tassawuf  mengatakan seseorang mungkin dapat mencapai semua maqom nafsu, tetapi nafsu peringkat pertama tidak kunjung padam. Oleh yang demikian perjuangan atau mujahadah mengawasi nafsu senantiasa berjalan.


Semoga Bermanfaat...

Ojo lali 

#follow #coment #share