Senin, 26 Oktober 2020

MANAQIB SYAIKH IBNU ATHOILLAH


 


Manaqib Syaikh Ibnu Atha’illah 

(Pengarang Kitab Al-Hikam)

 

Pengarang kitab al-Hikam yang cukup populer di negeri kita ini adalah Tajuddin, Abu al-Fadl, Ahmad bin Muhammad bin Abd al-Karim bin Atho’ al-Sakandari al-Judzami al-Maliki al-Syadzili. Ia berasal dari bangsa Arab. Nenek moyangnya berasal dari Judzam yaitu salah satu Kabilah Kahlan yang berujung pada Bani Ya’rib bin Qohton, bangsa Arab yang terkenal dengan Arab al-Aa’ribah.

 

Kota Iskandariah merupakan kota kelahiran sufi besar ini. Suatu tempat di mana keluarganya tinggal dan kakeknya mengajar. Kendatipun namanya hingga kini demikian harum, namun kapan sufi agung ini dilahirkan tidak ada catatan yang tegas. Dengan menelisik jalan hidupnya DR. Taftazani bisa menengarai bahwa ia dilahirkan sekitar tahun 658 sampai 679 H. Ayahnya termasuk semasa dengan Syaikh Abu al-Hasan al-Syadili -pendiri Thariqah al-Syadziliyyah-sebagaimana diceritakan Ibnu Atho’ dalam kitabnya “Lathoiful Minan “ : “Ayahku bercerita kepadaku, suatu ketika aku menghadap Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili, lalu aku mendengar beliau mengatakan: “Demi Allah… kalian telah menanyai aku tentang suatu masalah yang tidak aku ketahui jawabannya, lalu aku temukan jawabannya tertulis pada pena, tikar dan dinding”.

 

Keluarga Ibnu Atho’ adalah keluarga yang terdidik dalam lingkungan agama, kakek dari jalur nasab ayahnya adalah seorang ulama fiqih pada masanya. Tajuddin remaja sudah belajar pada ulama tingkat tinggi di Iskandariah seperti al-Faqih Nasiruddin al-Mimbar al-Judzami. Kota Iskandariah pada masa Ibnu Atho’ memang salah satu kota ilmu di semenanjung Mesir, karena Iskandariah banyak dihiasi oleh banyak ulama dalam bidang fiqih, hadits, usul, dan ilmu-ilmu bahasa arab, tentu saja juga memuat banyak tokoh-tokoh tasawwuf dan para Auliya’ Sholihin Oleh karena itu tidak mengherankan bila Ibnu Atho’illah tumbuh sebagai seorang faqih, sebagaimana harapan dari kakeknya.

 

Namun kefaqihannya terus berlanjt sampai pada tingkatan tasawuf. Hal mana membuat kakeknya secara terang-terangan tidak menyukainya. Ibnu Atho’ menceritakan dalam kitabnya “Lathoiful minan” : “Bahwa kakeknya adalah seorang yang tidak setuju dengan tasawwuf, tapi mereka sabar akan serangan dari kakeknya. Di sinilah guru Ibnu Atho’ yaitu Abul Abbas al-Mursy mengatakan: “Kalau anak dari seorang alim fiqih Iskandariah (Ibnu Atho’illah) datang ke sini, tolong beritahu aku”, dan ketika aku datang, al-Mursi mengatakan: “Malaikat jibril telah datang kepada Nabi bersama dengan malaikat penjaga gunung ketika orang quraisy tidak percaya pada Nabi. Malaikat penjaga gunung lalu menyalami Nabi dan mengatakan: ” Wahai Muhammad.. kalau engkau mau, maka aku akan timpakan dua gunung pada mereka”. Dengan bijak Nabi mengatakan : ” Tidak… aku mengharap agar kelak akan keluar orang-orang yang bertauhid dan tidak musyrik dari mereka”. Begitu juga, kita harus sabar akan sikap kakek yang alim fiqih (kakek Ibnu Atho’illah) demi orang yang alim fiqih ini”.

 

Pada akhirnya Ibn Atho’ memang lebih terkenal sebagai seorang sufi besar. Namun menarik juga perjalanan hidupnya, dari didikan yang murni fiqh sampai bisa memadukan fiqh dan tasawuf. Oleh karena itu buku-buku biografi menyebutkan riwayat hidup Atho’illah menjadi tiga masa: Masa pertama Masa ini dimulai ketika ia tinggal di Iskandariah sebagai pencari ilmu agama seperti tafsir, hadits, fiqih, usul, nahwu dan lain-lain dari para alim ulama di Iskandariah.

 

Pada periode itu beliau terpengaruh pemikiran-pemikiran kakeknya yang mengingkari para ahli tasawwuf karena kefanatikannya pada ilmu fiqih, dalam hal ini Ibnu Atho’illah bercerita: “Dulu aku adalah termasuk orang yang mengingkari Abu al-Abbas al-Mursi, yaitu sebelum aku menjadi murid beliau”. Pendapat saya waktu itu bahwa yaang ada hanya ulama ahli dzahir, tapi mereka (ahli tasawwuf) mengklaim adanya hal-hal yang besar, sementara dzahir syariat menentangnya”.

 

Masa kedua Masa ini merupakan masa paling penting dalam kehidupan sang guru pemburu kejernihan hati ini. Masa ini dimulai semenjak ia bertemu dengan gurunya, Abu al-Abbas al-Mursi, tahun 674 H, dan berakhir dengan kepindahannya ke Kairo. Dalam masa ini sirnalah keingkarannya ulama’ tasawwuf. Ketika bertemu dengan al-Mursi, ia jatuh kagum dan simpati. Akhirnya ia mengambil Thariqah langsung dari gurunya ini. Ada cerita menarik mengapa ia beranjak memilih dunia tasawuf ini. Suatu ketika Ibn Atho’ mengalami goncangan batin, jiwanya tertekan. Dia bertanya-tanya dalam hatinya : “apakah semestinya aku membenci tasawuf. Apakah suatu yang benar kalau aku tidak menyukai Abul Abbas al-Mursi ?. setelah lama aku merenung, mencerna akhirnya aku beranikan diriku untuk mendekatnya, melihat siapa al-Mursi sesungguhnya, apa yang ia ajarkan sejatinya. Kalau memang ia orang baik dan benar maka semuanya akan kelihatan.

 

Kalau tidak demikian halnya biarlah ini menjadi jalan hidupku yang tidak bisa sejalan dengan tasawuf. Lalu aku datang ke majlisnya. Aku mendengar, menyimak ceramahnya dengan tekun tentang masalah-masalah syara’. Tentang kewajiban, keutamaan dan sebagainya. Di sini jelas semua bahwa ternyata al-Mursi yang kelak menjadi guru sejatiku ini mengambil ilmu langsung dari Tuhan. Dan segala puji bagi Allah, Dia telah menghilangkan rasa bimbang yang ada dalam hatiku”.

 

Maka demikianlah, ketika ia sudah mencicipi manisnya tasawuf hatinya semakin tertambat untuk masuk ke dalam dan lebih dalam lagi. Sampai-sampai ia punya dugaan tidak akan bisa menjadi seorang sufi sejati kecuali dengan masuk ke dunia itu secara total, menghabiskan seluruh waktunya untuk sang guru dan meningalkan aktivitas lain. Namun demikian ia tidak berani memutuskan keinginannya itu kecuali setelah mendapatkan izin dari sang guru al-Mursi. Dalam hal ini Ibn Athoilah menceritakan : “Aku menghadap guruku al-Mursi, dan dalam hatiku ada keinginan untuk meninggalkan ilmu dzahir.

 

Belum sempat aku mengutarakan apa yang terbersit dalam hatiku ini tiba-tiba beliau mengatakan : “Di kota Qous aku mempunyai kawan namanya Ibnu Naasyi’. Dulu dia adalah pengajar di Qous dan sebagai wakil penguasa. Dia merasakan sedikit manisnya tariqah kita. Kemudian ia menghadapku dan berkata : “Tuanku… apakah sebaiknya aku meninggalkan tugasku sekarang ini dan berkhidmat saja pada tuan?”. Aku memandangnya sebentar kemudian aku katakan : “Tidak demikian itu tariqah kita. Tetaplah dengan kedudukan yang sudah di tentukan Allah padamu. Apa yang menjadi garis tanganmu akan sampai padamu juga”. Setelah bercerita semacam itu yang sebetulnya adalah nasehat untuk diriku beliau berkata: “Beginilah keadaan orang-orang al-Siddiqiyyin.

 

Mereka sama sekali tidak keluar dari suatu kedudukan yang sudah ditentukan Allah sampai Dia sendiri yang mengeluarkan mereka”. Mendengar uraian panjang lebar semacam itu aku tersadar dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dan alhamdulillah Allah telah menghapus angan kebimbangan yang ada dalam hatiku, sepertinya aku baru saja melepas pakaianku. Aku pun rela tenang dengan kedudukan yang diberikan oleh Allah”. Masa ketiga Masa ini dimulai semenjak kepindahan Ibn Atho’ dari Iskandariah ke Kairo. Dan berakhir dengan kepindahannya ke haribaan Yang Maha Asih pada tahun 709 H. Masa ini adalah masa kematangan dan kesempurnaan Ibnu Atho’illah dalam ilmu fiqih dan ilmu tasawwuf. Ia membedakan antara Uzlah dan kholwah. Uzlah menurutnya adalah pemutusan (hubungan) maknawi bukan hakiki, lahir dengan makhluk, yaitu dengan cara si Salik (orang yang uzlah) selalu mengontrol dirinya dan menjaganya dari perdaya dunia.

 

Ketika seorang sufi sudah mantap dengan uzlah-nya dan nyaman dengan kesendiriannya ia memasuki tahapan khalwah. Dan khalwah dipahami dengan suatu cara menuju rahasia Tuhan, kholwah adalah perendahan diri dihadapan Allah dan pemutusan hubungan dengan selain Allah SWT. Menurut Ibnu Atho’illah, ruangan yang bagus untuk ber-khalwah adalah yang tingginya, setinggi orang yang berkhalwat tersebut. Panjangnya sepanjang ia sujud. Luasnya seluas tempat duduknya. Ruangan itu tidak ada lubang untuk masuknya cahaya matahari, jauh dari keramaian, pintunya rapat, dan tidak ada dalam rumah yang banyak penghuninya.

 

Ibnu Atho’illah sepeninggal gurunya Abu al-Abbas al-Mursi tahum 686 H, menjadi penggantinya dalam mengembangkan Tariqah Syadziliah. Tugas ini ia emban di samping tugas mengajar di kota Iskandariah. Maka ketika pindah ke Kairo, ia bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar. Ibnu Hajar berkata: “Ibnu Atho’illah berceramah di Azhar dengan tema yang menenangkan hati dan memadukan perkatan-perkatan orang kebanyakan dengan riwayat-riwayat dari salafus soleh, juga berbagai macam ilmu. Maka tidak heran kalau pengikutnya berjubel dan beliau menjadi simbol kebaikan”. Hal senada diucapkan oleh Ibnu Tagri Baradi : “Ibnu Atho’illah adalah orang yang sholeh, berbicara di atas kursi Azhar, dan dihadiri oleh hadirin yang banyak sekali.

 

Ceramahnya sangat mengena dalam hati. Dia mempunyai pengetahuan yang dalam akan perkataan ahli hakekat dan orang orang ahli tariqah”. Termasuk tempat mengajar beliau adalah Madrasah al-Mansuriah di Hay al-Shoghoh. Beliau mempunyai banyak anak didik yang menjadi seorang ahli fiqih dan tasawwuf, seperti Imam Taqiyyuddin al-Subki, ayah Tajuddin al-Subki, pengarang kitab “Tobaqoh al-syafi’iyyah al-Kubro”. Karya Sebagai seoarang sufi yang alim Ibn Atho’ meninggalkan banyak karangan sebanyak 22 kitab lebih. Mulai dari sastra, tasawuf, fiqh, nahwu, mantiq, falsafah sampai khitobah. Kitabnya yang paling masyhur sehingga telah menjadi terkenal di seluruh dunia Islam ialah kitabnya yang bernama Hikam, yang telah diberikan komentar oleh beberapa orang ulama di kemudian hari dan yang juga telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing lain, termasuklah bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Kitab ini dikenali juga dengan nama al-Hikam al-ata’iyyah untuk membezakannya daripada kitab-kitab lain yang juga berjudul Hikam.

 

Karomah Ibn Athoillah Al-Munawi dalam kitabnya “Al-Kawakib al-durriyyah mengatakan: “Syaikh Kamal Ibnu Humam ketika ziarah ke makam wali besar ini membaca Surat Hud sampai pada ayat yang artinya: “Diantara mereka ada yang celaka dan bahagia…”. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam liang kubur Ibn Athoillah dengan keras: “Wahai Kamal… tidak ada diantara kita yang celaka”. Demi menyaksikan karomah agung seperti ini Ibnu Humam berwasiat supaya dimakamkan dekat dengan Ibnu Atho’illah ketika meninggal kelak.

 

Di antara karomah pengarang kitab al-Hikam adalah, suatu ketika salah satu murid beliau berangkat haji. Di sana si murid itu melihat Ibn Athoillah sedang thawaf. Dia juga melihat sang guru ada di belakang maqam Ibrahim, di Mas’aa dan Arafah. Ketika pulang, dia bertanya pada teman-temannya apakah sang guru pergi haji atau tidak. Si murid langsung terperanjat ketika mendengar teman-temannya menjawab “Tidak”. Kurang puas dengan jawaban mereka, dia menghadap sang guru. Kemudian pembimbing spiritual ini bertanya : “Siapa saja yang kamu temui ?” lalu si murid menjawab : “Tuanku… saya melihat tuanku di sana “. Dengan tersenyum al-arif billah ini menerangkan : “Orang besar itu bisa memenuhi dunia.Seandainya saja Wali Qutb di panggil dari liang tanah, dia pasti menjawabnya”.

 

Wafat Tahun 709 H adalah tahun kemalangan dunia maya ini. Karena tahun tersebut wali besar yang tetap abadi nama dan kebaikannya ini harus beralih ke alam barzah, lebih mendekat pada Sang Pencipta. Namun demikian madrasah al-Mansuriyyah cukup beruntung karena di situlah jasad mulianya berpisah dengan sang nyawa. Ribuan pelayat dari Kairo dan sekitarnya mengiring kekasih Allah ini untuk dimakamkan di pemakaman al-Qorrofah al-Kubro.


رب فانفعنا ببركتهم واهدنا الحسنى بحرمتهم

وامتنا فى طريقتهم ومعافاة من الفتن

Semoga Bermanfaat...

Ojo lali 

#follow #coment #share

Selasa, 13 Oktober 2020

MENGETAHUI APA ITU IRFAN

 

LEBIH DEKAT MENGENAL IRFAN


Tasawuf adalah fase kelanjutan umat Islam dalam pencariannya terhadap Dzat Tunggal. Mereka berupaya mendaki maqam-maqam tasawuf. Di antara konsep tasawuf tentang maqamat, terma ma’rifat termasuk yang menarik untuk dikaji lebih mendalam.

Namun sebelum mengeksplorasi kajian ini lebih jauh, seyogyanya terlebih dahulu mengetahui arti dari istilah-istilah yang berkembang pada studi tasawuf secara umum atau irfan secara khusus. 

Irfan dalam bahasa Arab merupakan masdar dari arafa yang semakna dengan ma’rifah. dalam kamus Lisan Al-Arab, al-irfan diartikan dengan al-ilm. Menurut al-Jabiri, di kalangan para sufi, kata irfan dipergunakan untuk menunjukkan jenis pengetahuan yang tertinggi, yang dihadirkan dalam qalbu dengan cara kasyf atau ilham. Hanya saja, istilah ini berkembang pada penggunaannya di kalangan sufi, kecuali pada masa-masa belakangan ini.

Sedang menurut Dzunnun, al-ma’rifah adalah cahaya yang dilontarkan Tuhan ke dalam hati sufi. orang yang tahu Tuhan tidak mempunyai wujud tersendiri tetapi berwujud melalui wujud Tuhan. Ia juga menerangkan:

عرفت ربي بربي و لولا ربي لما عرفت ربي.

Aku mengetahui Tuhan melalui Tuhan dan jika sekiranya tidak karena Tuhan, aku tidak akan tahu pada Tuhan.

Yang dimaksud oleh Dzunnun ialah bahwa al-ma’rifah tidak dapat diperoleh atas usaha sufi saja. Sufi berusaha dan kemudian sabar menunggu kasih dan rahmat Tuhan.

Menurut Harun Nasution, dari literatur yang diberikan tentang ma’rifah, ma’rifah berarti mengetahui Tuhan dari dekat, sehingga hati sanubari dapat melihat Tuhan. Oleh karena itu orang-orang sufi mengatakan:

  1. Kalau mata yang terdapat dalam hati sanubari manusia terbuka, mata kepalanya akan tertutup, dan di ketika itu yang dilihatnya hanya Allah.
  2. Ma’rifah adalah cermin, kalau seorang arif melihat ke cermin itu yang akan dilihatnya hanyalah Allah.
  3. Yang dilihat orang arif baik sewaktu tidur maupun sewaktu bangun hanyalah Allah.
  4. Sekiranya ma’rifah mengambil bentuk materi, semua orang yang melihat padanya akan mati karena tak tahan melihat kecantikan serta keindahannya. Dan semua cahaya akan menjadi gelap di samping cahaya keindahan yang gilang-gemilang.

Sedang menurut KH. Said Aqil Siraj, kata ma’rifat dalam bentuk mashdar (akar kata) tidak terdapat di dalam al-Qur’an dan Hadits Rasulullah saw. Kata ma’rifat perspektif tasawuf merupakan hal baru dalam Islam sebagaimana kata tasawuf`. Al-qur’an hanya menyebut kata-kata musytaq darinya, seperti Firman Allah:

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمُ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ.

Dalam ayat-ayat tersebut di atas terdapat kata ya’rifun dengan bentuk kata kerja, fungsinya adalah menjelaskan keingkaran dan ketiadaan iman orang Ahli Kitab. Begitu juga al-Qur’an dan al-Sunnah tidak menyebut gelar arif billah. Gelar ini juga tidak digunakan oleh para ulama generasi sahabat dan tabi’in. Para salaf al-shalih hanya menggunakan gelar mukmin, muslim, muhsin, alim, shalih, dan seterusnya.  Lalu timbul pertanyaan, “apa sumber kalam Dzunnun al-Mishri mengenai Ma’rifat. 

Para ahli irfan jika dilihat dari sudut pandang akademis, mereka disebut urofa, dan jika dilihat dari sudut pandang sosial, mereka disebut sufi (mutasawwifah).

Senada dengan hal di atas, sesungguhnya sufisme sering disebut irfan tertama apabila tengah diperbincangkan aspek doktrinnya.

Menurut al-Muthahhari, ketika irfan diadopsi kedalam Islam, para ahli al-irfan mempermudahnya menjadi pembicaraan mengenai al-naql dan at-tawzif



Upaya menyingkap wacana Qur’ani dan memperluas ibarahnya untuk memperbanyak makna. Jadi, pendekatan irfani merupakan sebuah pendekatan yang dikembangkan oleh kaum arif untuk mengeluarkan makna batin dari batin lafz dan ibarah, ia juga merupakan istinbat al-ma’rifah al-qalbiyyah dari Al-Qur’an.


Semoga Bermanfaat...

Ojo lali 

#follow #coment #share

BERTASAWWUF....? Ketahui Dulu Visi misinya

 


VISI MISI TASAWWUF

 

VISI.

Melangkah Jauh Tujuan Tasawwuf Adalah Mencari Kebahagian yang Universal (luas) dalam Menggapai Rahasia dibalik Rahasia dan Menghidupkan Pilar-pilar Pemikiran yang Sejati demi Menempuh hidup Bahagia Didunia maupun Diakhirat.

MISI.

1. Hidup Merdeka dalam Status Koridor Ketauhidan dan Syari’at

2. Bersikap Totalitas Dewasa dalam Menatap Kehidupan

3. Mengetahui dan Faham Hak dan Kewajiban Dihadapan Tuhan Semesta alam

4. Memahami Esensi Kehidupan dan Dapat selalu Mengambil Hikmah Dibalik Setiap   Kejadian

5. Mampu Berbuat Bijaksana pada Fase/Paragrap Kehidupan kepada CiptaanNYA yang selalu Baik,Walaupun Keburukan Datang Kepada Kita

6. Profesional Dalam Membagi Pekerjaannya Badan,Pikiran dan Perasaan

7. Menjadikan Jiwa (diri) Mengerti Kepada Keutuhan dan Menciptakan Imajinasi yang BerDimensi Tinggi serta Kreatif yang Baik

8. Mencoba serta Melatih Seluruh Jiwa agar selalu Baik Sangka pada setiap MahkluqNYA, KeadaanNYA, WaktuNYA, TempatNYA dan terhadap Khaliq itu sendiri

9. Tidak Menyalahkan Apalagi Mengkafirkan Ajaran yang Dianut Agama Yang Dipeluk dan Spritual yang dijalankan Oleh Orang lain ( pesan Alm.KH.Abdurrahman Wahid )

 

من لـم يـــذ ق لـم يـعـرف 

Orang yang tidak mengalami tak akan mengenal

من عـرف نفســه فـقـد عـرف ربـه

Orang   yang tau dirinya maka sungguh  mengenal Tuhannya


Semoga Bermanfaat...

Ojo lali 

#follow #coment #share

هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّى لِيَبْلُوَنِىٓ 

( Semua Adalah Anugerah dari tuhanku guna untuk diuji )


MAQOLAH HIKAM Ke-1












Kajian Tasawwuf : Kitab HIKAM

Kitab al-Hikam karangan Imam Tajuddin Abu Fadhli Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Athaillah Askandary

HIKMAH Ke-1 ( Menggantungkan Amal )

مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِــمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزّ َلَلِ

Artinya :

SEBAGIAN TANDA BERSANDAR KEPADA AMAL (PERBUATAN DHOHIR) ADALAH BERKURANGNYA (mengurangi) HARAPAN (SUASANA HATI) TATKALA BERLAKU PADANYA KESALAHAN


Bayan :

Imam Ibnu Athaillah memulai Kalam Hikmah beliau dengan mengajak kita merenung kepada hakikat amal.

Amal  dibagi kepada dua jenis yaitu perbuatan zhohir dan perbuatan hati atau suasana hati berhubung dengan perbuatan zhohir itu.

Beberapa orang  melakukan perbuatan zhohir yang serupa tetapi suasana hati berhubung dengan perbuatan zhohir itu tidak serupa. Dampak amalan zhohir kepada hati berbeda antara seorang dengan seorang yang lain.

Jika amalan zhohir itu mempengaruhi suasana hati, maka hati itu dikatakan bersandar kepada amalan zhohir. Jika hati dipengaruhi juga oleh amalan hati, maka hati itu dikatakan bersandar juga kepada amal, sekalipun  amalan batin.

Hati yang bebas dari bersandar kepada amal, ada amal zhohir atau amal batin adalah hati yang menghadap kepada Allah dan meletakkan ketergantungan kepada-Nya tanpa membawa sembarangan amal zhohir atau batin, serta menyerah sepenuhnya kepada Allah tanpa sembarang takwil atau tuntutan.
Hati yang demikian tidak menjadikan amalnya, zhohir dan batin, walau berapa banyak sekalipun, sebagai alat untuk tawar menawar dengan Tuhan untuk mendapatkan sesuatu.

Amalan tidak menjadi perantaraan di antaranya dengan Tuhannya. Orang yang seperti ini tidak membataskan kekuasaan dan kemurahan Tuhan untuk tunduk kepada perbuatan manusia. Allah Yang Maha Berdiri Dengan Sendiri berbuat sesuatu menurut kehendak-Nya tanpa dipengaruhi oleh siapa dan sesuatu apapun.

Apa saja yang mengenai Allah adalah mutlak, tidak ada had, sepadan dan tidak terbatas. Oleh karena itu orang arif tidak menjadikan amalan sebagai sepadan yang melampaui ketuhanan Allah atau memaksa Allah berbuat sesuatu menurut perbuatan makhluk.

Perbuatan Allah berada di hadapan dan perbuatan makhluk di belakang. Tidak pernah terjadi Allah mengikuti perkataan dan perbuatan seseorang atau sesuatu.

Sebelum menjadi seorang yang arif, hati manusia memang berhubung rapat dengan amalan dirinya, baik yang zhohir mau pun yang batin. Manusia yang kuat bersandar kepada amalan zhohir adalah mereka yang mencari faedah keduniaan dan mereka yang kuat bersandar kepada amalan batin adalah yang mencari faedah akhirat. Kedua-dua jenis manusia tersebut percaya bahwa amalannya menentukan apa yang mereka akan peroleh baik di dunia dan juga di akhirat.

Kepercayaan yang demikian kadang-kadang membuat manusia hilang atau kurang bergantung dengan Tuhan. Ketergantungan mereka hanyalah kepada amalan semata-mata ataupun jika mereka bergantung kepada Allah ketergantungan itu bercampur dengan keraguan.

Seseorang manusia  memeriksa diri sendiri apakah kuat atau lemah ketergantungannya kepada Allah. Kalam Hikmah Ke-1 yang dikeluarkan oleh Syekh Ibnu Athaillah memberi petunjuk mengenainya.

Lihatlah kepada hati apabila kita terperosok ke dalam perbuatan maksiat atau dosa. Jika kesalahan yang demikian membuat kita berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah itu tandanya ketergantungan kita kepada-Nya sangat lemah.

Orang yang tidak beriman kepada Allah berada dalam situasi yang berbeda. Ketergantungan mereka hanya tertuju kepada amalan mereka, yang terkandung di dalamnya ilmu dan usaha.

Apabila mereka mengadakan sesuatu usaha berdasarkan kemampuan dan pengetahuan yang mereka punya, mereka mengharapkan akan mendapat hasil yang setimpal. Jika ilmu dan usaha (termasuk pertolongan orang lain) gagal mendatangkan hasil, mereka tidak mempunyai tempat bersandar lagi. Jadilah mereka orang yang berputus asa. Mereka tidak dapat melihat hikmah kebijaksanaan Allah mengatur perjalanan takdir dan mereka tidak mendapat rahmat dari-Nya.

Semoga Bermanfaat...

Ojo lali 

#follow #coment #share

Mari kita rubah mensej kebiasaan kita bahwa dari amal akan bisa begini dan akan bisa begitu...