Selasa, 13 Oktober 2020

MAQOLAH HIKAM Ke-1












Kajian Tasawwuf : Kitab HIKAM

Kitab al-Hikam karangan Imam Tajuddin Abu Fadhli Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Athaillah Askandary

HIKMAH Ke-1 ( Menggantungkan Amal )

مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِــمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزّ َلَلِ

Artinya :

SEBAGIAN TANDA BERSANDAR KEPADA AMAL (PERBUATAN DHOHIR) ADALAH BERKURANGNYA (mengurangi) HARAPAN (SUASANA HATI) TATKALA BERLAKU PADANYA KESALAHAN


Bayan :

Imam Ibnu Athaillah memulai Kalam Hikmah beliau dengan mengajak kita merenung kepada hakikat amal.

Amal  dibagi kepada dua jenis yaitu perbuatan zhohir dan perbuatan hati atau suasana hati berhubung dengan perbuatan zhohir itu.

Beberapa orang  melakukan perbuatan zhohir yang serupa tetapi suasana hati berhubung dengan perbuatan zhohir itu tidak serupa. Dampak amalan zhohir kepada hati berbeda antara seorang dengan seorang yang lain.

Jika amalan zhohir itu mempengaruhi suasana hati, maka hati itu dikatakan bersandar kepada amalan zhohir. Jika hati dipengaruhi juga oleh amalan hati, maka hati itu dikatakan bersandar juga kepada amal, sekalipun  amalan batin.

Hati yang bebas dari bersandar kepada amal, ada amal zhohir atau amal batin adalah hati yang menghadap kepada Allah dan meletakkan ketergantungan kepada-Nya tanpa membawa sembarangan amal zhohir atau batin, serta menyerah sepenuhnya kepada Allah tanpa sembarang takwil atau tuntutan.
Hati yang demikian tidak menjadikan amalnya, zhohir dan batin, walau berapa banyak sekalipun, sebagai alat untuk tawar menawar dengan Tuhan untuk mendapatkan sesuatu.

Amalan tidak menjadi perantaraan di antaranya dengan Tuhannya. Orang yang seperti ini tidak membataskan kekuasaan dan kemurahan Tuhan untuk tunduk kepada perbuatan manusia. Allah Yang Maha Berdiri Dengan Sendiri berbuat sesuatu menurut kehendak-Nya tanpa dipengaruhi oleh siapa dan sesuatu apapun.

Apa saja yang mengenai Allah adalah mutlak, tidak ada had, sepadan dan tidak terbatas. Oleh karena itu orang arif tidak menjadikan amalan sebagai sepadan yang melampaui ketuhanan Allah atau memaksa Allah berbuat sesuatu menurut perbuatan makhluk.

Perbuatan Allah berada di hadapan dan perbuatan makhluk di belakang. Tidak pernah terjadi Allah mengikuti perkataan dan perbuatan seseorang atau sesuatu.

Sebelum menjadi seorang yang arif, hati manusia memang berhubung rapat dengan amalan dirinya, baik yang zhohir mau pun yang batin. Manusia yang kuat bersandar kepada amalan zhohir adalah mereka yang mencari faedah keduniaan dan mereka yang kuat bersandar kepada amalan batin adalah yang mencari faedah akhirat. Kedua-dua jenis manusia tersebut percaya bahwa amalannya menentukan apa yang mereka akan peroleh baik di dunia dan juga di akhirat.

Kepercayaan yang demikian kadang-kadang membuat manusia hilang atau kurang bergantung dengan Tuhan. Ketergantungan mereka hanyalah kepada amalan semata-mata ataupun jika mereka bergantung kepada Allah ketergantungan itu bercampur dengan keraguan.

Seseorang manusia  memeriksa diri sendiri apakah kuat atau lemah ketergantungannya kepada Allah. Kalam Hikmah Ke-1 yang dikeluarkan oleh Syekh Ibnu Athaillah memberi petunjuk mengenainya.

Lihatlah kepada hati apabila kita terperosok ke dalam perbuatan maksiat atau dosa. Jika kesalahan yang demikian membuat kita berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah itu tandanya ketergantungan kita kepada-Nya sangat lemah.

Orang yang tidak beriman kepada Allah berada dalam situasi yang berbeda. Ketergantungan mereka hanya tertuju kepada amalan mereka, yang terkandung di dalamnya ilmu dan usaha.

Apabila mereka mengadakan sesuatu usaha berdasarkan kemampuan dan pengetahuan yang mereka punya, mereka mengharapkan akan mendapat hasil yang setimpal. Jika ilmu dan usaha (termasuk pertolongan orang lain) gagal mendatangkan hasil, mereka tidak mempunyai tempat bersandar lagi. Jadilah mereka orang yang berputus asa. Mereka tidak dapat melihat hikmah kebijaksanaan Allah mengatur perjalanan takdir dan mereka tidak mendapat rahmat dari-Nya.

Semoga Bermanfaat...

Ojo lali 

#follow #coment #share

Mari kita rubah mensej kebiasaan kita bahwa dari amal akan bisa begini dan akan bisa begitu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar