LEBIH DEKAT MENGENAL IRFAN
Tasawuf
adalah fase kelanjutan umat Islam dalam pencariannya terhadap Dzat Tunggal.
Mereka berupaya mendaki maqam-maqam tasawuf. Di antara konsep tasawuf tentang maqamat,
terma ma’rifat termasuk yang menarik untuk dikaji lebih mendalam.
Namun
sebelum mengeksplorasi kajian ini lebih jauh, seyogyanya terlebih dahulu
mengetahui arti dari istilah-istilah yang berkembang pada studi tasawuf secara
umum atau irfan secara khusus.
Irfan
dalam bahasa Arab merupakan masdar dari arafa yang semakna
dengan ma’rifah. dalam kamus Lisan Al-Arab, al-irfan
diartikan dengan al-ilm. Menurut al-Jabiri, di kalangan para sufi,
kata irfan dipergunakan untuk menunjukkan jenis pengetahuan yang tertinggi,
yang dihadirkan dalam qalbu dengan cara kasyf atau ilham. Hanya saja, istilah
ini berkembang pada penggunaannya di kalangan sufi, kecuali pada masa-masa
belakangan ini.
Sedang
menurut Dzunnun, al-ma’rifah adalah cahaya yang dilontarkan Tuhan ke dalam hati
sufi. orang yang tahu Tuhan tidak mempunyai wujud tersendiri tetapi berwujud
melalui wujud Tuhan. Ia juga menerangkan:
عرفت ربي بربي و لولا ربي لما عرفت ربي.
Aku
mengetahui Tuhan melalui Tuhan dan jika sekiranya tidak karena Tuhan, aku tidak
akan tahu pada Tuhan.
Yang
dimaksud oleh Dzunnun ialah bahwa al-ma’rifah tidak dapat diperoleh atas
usaha sufi saja. Sufi berusaha dan kemudian sabar menunggu kasih dan rahmat
Tuhan.
Menurut
Harun Nasution, dari literatur yang diberikan tentang ma’rifah, ma’rifah
berarti mengetahui Tuhan dari dekat, sehingga hati sanubari dapat melihat
Tuhan. Oleh karena itu orang-orang sufi mengatakan:
- Kalau mata yang terdapat dalam
hati sanubari manusia terbuka, mata kepalanya akan tertutup, dan di ketika
itu yang dilihatnya hanya Allah.
- Ma’rifah adalah cermin, kalau
seorang arif melihat ke cermin itu yang akan dilihatnya hanyalah Allah.
- Yang dilihat orang arif baik
sewaktu tidur maupun sewaktu bangun hanyalah Allah.
- Sekiranya ma’rifah mengambil
bentuk materi, semua orang yang melihat padanya akan mati karena tak tahan
melihat kecantikan serta keindahannya. Dan semua cahaya akan menjadi gelap
di samping cahaya keindahan yang gilang-gemilang.
Sedang
menurut KH. Said Aqil Siraj, kata ma’rifat dalam bentuk mashdar (akar kata)
tidak terdapat di dalam al-Qur’an dan Hadits Rasulullah saw. Kata ma’rifat perspektif tasawuf merupakan hal baru dalam Islam sebagaimana kata tasawuf`.
Al-qur’an hanya menyebut kata-kata musytaq darinya, seperti Firman
Allah:
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمُ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ.
Dalam
ayat-ayat tersebut di atas terdapat kata ya’rifun dengan bentuk kata kerja,
fungsinya adalah menjelaskan keingkaran dan ketiadaan iman orang Ahli Kitab.
Begitu juga al-Qur’an dan al-Sunnah tidak menyebut gelar arif billah.
Gelar ini juga tidak digunakan oleh para ulama generasi sahabat dan tabi’in.
Para salaf al-shalih hanya menggunakan gelar mukmin, muslim, muhsin,
alim, shalih, dan seterusnya. Lalu timbul pertanyaan, “apa sumber kalam
Dzunnun al-Mishri mengenai Ma’rifat.
Para
ahli irfan jika dilihat dari sudut pandang akademis, mereka disebut urofa,
dan jika dilihat dari sudut pandang sosial, mereka disebut sufi (mutasawwifah).
Senada
dengan hal di atas, sesungguhnya sufisme sering disebut irfan
tertama apabila tengah diperbincangkan aspek doktrinnya.
Menurut al-Muthahhari, ketika irfan diadopsi kedalam Islam, para ahli al-irfan mempermudahnya menjadi pembicaraan mengenai al-naql dan at-tawzif
Upaya menyingkap wacana Qur’ani dan memperluas ibarahnya untuk memperbanyak makna. Jadi, pendekatan irfani merupakan sebuah pendekatan yang dikembangkan oleh kaum arif untuk mengeluarkan makna batin dari batin lafz dan ibarah, ia juga merupakan istinbat al-ma’rifah al-qalbiyyah dari Al-Qur’an.
Semoga Bermanfaat...
Ojo lali
#follow #coment #share

Tidak ada komentar:
Posting Komentar